Tentang Kehidupan

 Aku bukan tipikal orang yang suka bercerita hal hal sedih. Jangankan bercerita, mengingat saja kadang tidak sanggup. 


Namun kali ini, izinkan aku bercerita.


Memang bukan untuk diingat, namun setidaknya jika suatu hari nanti keadaan sudah lebih baik, aku bisa membaca cerita ini lagi agar aku tidak lupa rasanya pernah berada di keadaan yang rumit.




29 Juli 2024


Sudah lama aku menunda untuk test pack. Tapi feelingku berkata, ini benar. Dan ya memang benar, aku hamil. 


Tapi aku malah bingung, antara senang dan sedih. Aku senang karena ternyata Allah memberikan kami kepercayaan secepat ini. Sedih karena nyatanya keadaan ekonomi keluarga kami kala itu sedang pas pas an.


Part tersedih nya ketika aku terus menerus meratapi keadaanku sendiri. Aku hamil, dan masih harus bekerja keras. Banting tulang pagi hingga kadang sampai larut malam kulakukan. Bukan karena aku ingin, bukan karena ambisi. Tapi karena keadaan- yang tidak memberikan ku pilihan.


Kalau hidup ini masih memberikanku pilihan. Tentu aku memilih untuk istirahat dirumah. Menikmati masa kehamilan pertamaku yang kata orang sungguh akan sulit terlupakan.


Bahkan aku ingat betul, dalam keadaan hamil besar, hujan badai pun masih ku terjang. Semua demi kehidupan rumah tangga yang mati matian ku pertahankan.


Hormon ibu hamil yang naik turun membuat emosi ku ikut acak acakan. Kala itu setiap aku melihat postingan teman teman ku yang sama sama hamil rasanya hatiku teriris. Mereka terlihat bahagia dan sangat menikmati momen2 indah kehamilan mereka. Sampai aku pernah berada di suatu titik dimana aku sangat benci dan jengkel melihat ibu hamil yang bahagia di Instagram. Memang se frustasi itulah aku saat itu 


Melihat mereka dimanjakan suami dan bisa beli makanan ini itu sesuka hati. Sedangkan aku, jangankan beli makanan, beli baju hamil yang aku idam idamkan pun kami tak mampu. Akhirnya sehari hari aku memakai pakaian yang ada, walaupun rasanya sesak, tapi lagi lagi karena kami tidak punya pilihan.


Padahal jika kuingat, ketika ibuku tahu bahwa aku hamil, beliau sangat sangat sangat menjagaku. Tidak boleh capek katanya, tidak boleh stress, dan berbagai macam wejangan beliau berikan. Bahkan sampai urusan baju pun beliau perhatikan. Katanya ibu hamil tidak boleh pakai kaos, harus pakai daster/baju longgar. Kasian bayi dan perutnya- sesak, begitu katanya.


Dan itu memang benar nyata adanya. Ada suatu momen ketika aku pulang kampung, dan ibu melihatku pakai kaos seperti biasa. Ibu pun ngomel- beliau hanya tidak tahu. Yang aku heran mungkin sepertinya juga terasa di hati beliau- kalau memang di tanah rantau sehari hari aku hanya pakai kaos bahkan sampai hamil besar dan baju ku rasanya jadi kekecilan semua.


Beliau juga menyuruhku agar membawa semua daster dasternya. Dengan suara sedikit tertahan aku menjawab "aah dasterku sudah banyak disana bu, tidak perlu bawa dari rumah" begitulah kataku :")


Aku tahu ini salah. Tapi aku hanya tidak ingin ibu sedih jika tahu keadaanku yang sesungguhnya.


Masih di momen hamil pertama. Pagi hari pun aku sering melewatkan sarapan. Bahkan sering hanya makan 1x sehari. Bukan aku tidak tahu resikonya, tapi lagi lagi karena keadaan. Saat hamil besar badanku sudah lemah, sudah susah sekali bergerak. Aku masih bisa bekerja saja sudah sangat bersyukur. 


Sebenarnya aku ingin suamiku lebih perhatian. Walau sesederhana mengingatkan makan, memberi ide menu makan, mengingatkan untuk minum vitamin. Mungkin dalam benaknya, oh istriku kan bidan jadi dia sudah tahu lah apa yg terbaik untuk anak kami. Tapi bukan itu maksudku. Aku hanya ingin lebih diperhatikan. Ditanya kabarnya, ditanya perasaannya, atau mungkin sekedar tanya aku butuh apa. Tapi semua itu tidak terjadi. Aku tidak menyalahkan suamiku, toh kita masih sama sama belajar untuk saling melengkapi.


Saat hamil pertama ini aku sering mual dan muntah, terutama saat pagi hari. Namun yaa seperti yang kukatakan, suamiku tidak pernah menanyakan walau hanya sekedar apakah aku baik baik saja. Dan ya yang bisa kulakukan adalah terlihat baik baik saja. Bahkan ketika dijalan, aku sering mual mual sampai perutku kram dan tidak ada lagi yang bisa ku keluarkan dari lambung. Karena memang perut yang belum terisi. Hingga memperparah keadaan.




Sebenarnya bisa saja aku berjuang sendiri untuk diriku dan calon buah hati ku. Tapi aku sudah terlalu dibuat lelah dengan keadaanku kala itu. Hingga yang ada dipikiranku hanya sedih, tertekan, dan bingung. Bayangkan, aku hamil, aku bekerja dan aku tulang punggung keluarga. Ya aku juga tulang punggung- karena saat itu suamiku sedang terkena musibah, hingga dia berhenti dari pekerjaan lama. Dua bulan aku tidak mendapatkan nafkah, hingga kini dia mendapatkan pekerjaan lagi dan baru mampu memberi 500rb untuk jatah 1 bulan.


Dann ya, orang tuaku tidak tahu menahu soal ini.


Aku tidak mengeluh, aku tidak menyalakan sesiapa. Aku hanya menyemangati diriku sendiri bahwa ini tidak lain jalan dari Allah. Dan pasti ada kebaikan didalamnya 


Belum berhenti sampai disitu. Soal baju bayi. Ya Allah aku sedih sekali jika ingat soal ini. 


-ketika sudah dekat dengan hari H anak kami lahir ke dunia, banyak yang menanyakan persiapan apa saja yg sudah aku lakukan. Apa sudah beli baju bayi, peralatan bayi, pampers dan lain sebagainya. Ku jawab sudah. Padahal kami baru mampu membeli semuanya ketika benar benar sudah mepet waktu dengan hari H. Itupun kami hanya mampu beli 1 lusin dan memilih harga yang paling murah.




Hasya anakku, maafkan ibu dan ayahmu yang belum bisa memberikan apa yang sekiranya terbaik untukmu. Namun ketahuilah kedua orang tuamu tidak akan berhenti berjuang untuk kehidupanmu yg layak dan bahagia di masa depan.

Komentar